Hidup Saya Yang Kaku Dan Kurang Fleksibel Dalam Menghadapi Masalah

Mulai dari meletakkan piring di atas meja sampai pulang ke rumah, kita terus-terusan disibukkan oleh dinamika pekerjaan yang tak habis-habisnya.

Di satu sisi kita ingin mendapat perubahan hidup lebih baik atau setidaknya punya pemasukan lebih daripada UMR sekarang 2,4 juta sampai 3,3 juta.

Bukan tidak bersyukur tapi masih banyak hal yang perlu dilakukan tapi, kita dibatasi oleh masalah keuangan yang kurang mumpuni.

Saya cukup percaya banyak di antara kita yang masih ingin lebih, apalagi masa sekarang terjadi inflasi kian meroket yang tak diimbagi oleh gaji yang proses naiknya benar-benar lama – berat sebelah...

Satu informasi bahwa suatu saat nanti properti seperti perumahan bakalan susah untuk di cicil apalagi di bayar cash dengan gaji segitu-gitu aja.

Punya pemasukan 3 juta-an, cicilan rumah 1 jutaan, uang bulanan 1 jutaan dan 1 juta lagi untuk belanja pakaian atau sekedar untuk berlibur versi low badget!

Inilah yang terjadi di kalangan masyarakat sekarang!

Apa memang benar kita membiarkannya begitu saja, kita hidup hanya mampu membiayai diri sendiri bukan satu keluarga.

Agak terdengar miris bukan!

Hidup Saya Yang Kaku Dan Kurang Fleksibel Dalam Menghadapi Masalah

Jujur saya juga termasuk dari kalangan menengah ke bawah.

Masih lajang, punya pemasukan yang cukup untuk diri sendiri dan masih terjebak di zona yang sama yaitu hidup masih gitu-gitu aja 3 4 tahun belakangan.

Kapan hidup ini berubah...

tidak ada yang bisa menyelamatkan diri kita kecuali diri kita sendiri.

Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari situasi ini dan mengubah hidup jauh lebih baik di masa mendatang.

Teruntuk diri saya pribadi yang masih berusaha dan sering gagal membangun pekerjaan sampingan demi pemasukan tambahan.

Saya pikir setelah menyelesaikan tugas-tugas di profesi, saya lanjut lagi mengerjakan hal lain seperti (menulis, buat video dan juga bisnis kecil-kecilan).

Kemudian saya berhasil...

Namun Ini benar-benar menguras waktu dan tenaga saya.

“wajar lama karna kamu bukan pewaris tapi seorang perintis, kamu hanya di modali tekad dan fisik”

yah! Kurang lebih gitulah alasan saya masih mampu bertahan meski belum menghasilkan sesuatu yang besifat materi di kerjaan sampingan.

Susun rencana buat daftar lakukan selama satu bulan atau minimal sepekan. Ini saya pikir bakalan mudah dan dapat saya kerjakan dengan konsisten.

Tenyata banyak hal tak terduka membuat saya terhambat dan kesulitan memenuhi rencana sampai tercapai 100% atau setidaknya saya bisa konsisten.

Susun rencana baik-baik tapi hanya 30% - 50% aja yang terwujud dan tidak konsisten.

Parahnya lagi!

Setelah itu saya malas dan kandas ditengah jalan entah masalah stress, capek, lelah dan sakit.

Saya berharap dapat konsisten menulis tiap hari, membuat video tiap hari dan bisnis saya bisa jalan tiap hari.

Kenyataan yang ada dalam waktu sepekan saya hanya mampu manulis satu dua kali, membuat video kadang-kadang bergantung mood dan di bisnis setelah janjian dengan pembeli rupanya batal karna musim hujan, tidak bisa tepat waktu karna macet, barang tidak sesuai pesanan dan uniknya juga pelanggang pengen berkualitas tapi tidak mau keluar banyak gimana ceritanya... 

ya sudahlah saya harus kembali menyelesaikan pekerjaan utama!

“orang yang tak bekerja adalah orang yang tak boleh makan maka, bekerjalah”

mau nggak mau saya perlu siap-siap berangkat kerja dan pulang kerja, kemudian diselah – selah waktu saya luangkan untuk menulis, membuat video atau menjalankan bisnis.

Saya asli sendirian mengerjakan semua, terdengar luar biasa...

namun kenyataan yang ada saya berantakan dan tidak konsisten.

Apakah memang begitu keadaan yang harus saya terima.

Apakah rencana memang tidak bisa di ubah.

Apakah saya masih keras kepala untuk semua hal harus sesuai ekspektasi.

Apakah tidak ada jalan lain...

saya kaku dan kesulitan mengubah pola pikir....

padahal dunia berjalan begitu dinamis apa adanya.

Hari ini tidak sama dengan hari esok, hari senin ini tidak sama dengan hari senin berikutnya, bulan januari tahun ini tidak mungkin sama bulan januari tahun depan.

Kita tidak selalu punya peluang yang sama tiap waktu, kesempatan pertama tidak sama dengan kesempatan kedua.

Saya perlu berubah.

Yap! Saya harus menerimanya dan mengahadapi diri saya bahwa inilah hasil dari sifat saya yang kaku tidak mau berubah dan selalu melakukan hal yang sama tapi ingin mendapat hasil yang berbeda.

Lucu bukan! Tapi itulah saya yang keras kepala.

Saya cukup sadar tetapi sulit berubah.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun hingga 3 4 tahun saya baru terhentak dan melihat banyaknya kekeliruan yang telah saya lakukan.

Itu nyata dengan hasil yang tidak ada apa-apanya dengan 3 tahunan berlalu begitu saja.

Akhirnya putuskan untuk rencana yang fleksibel.

Saya tidak dapat selalu menulis tiap hari, membuat video setiap hari atau bisnis penjualan bakal laku tiap hari.

Semua ada waktu dan tempat terbaiknya.

Tidak apa-apa hari ini saya tidak dapat membuat video tapi hari ini saya dapat menulis, tidak masalah tidak ada penjualan hari ini tapi hari ini saya masih bisa membuat video, nggak masalah juga tidak menulis ataupun membuat video tapi saya masih ada penjualan hari ini.

Dan tidak masalah hari ini saya tidak menulis, tidak membuat video dan tidak ada penjualan tapi, setidaknya saya masih bisa menyelesaikan pekerjaan utama.

Sekalipun hari ini semua terhenti, setidaknya saya masih sehat dan masih bisa berusaha besok.

Inilah poin yang harusnya saya pahami bahwa saya mesti fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan keadaan seperti air jika ia di tumpahkan ke dalam gelas maka ia berbentuk gelas, jika ia di tumpahkan ke dalam jergen maka ia berbentuk jergen, di mana pun air di tumpahkan maka air akan menyesuaikan diri.

Jalan saya cukup panjang untuk mengubah satu pola pikir saja, dari berpikir kaku jadi fleksibel butuh 3 tahunan...

Kita tidak dapat mengendalikan secara penuh apa yang ada diluar diri, tapi kita mampu mengendalikan apa yang ada dalam diri kita.

Ketika rencana tidak berjalan sesuai keinginan hal pertama yang harus dikendalikan cara kita menyikapinya, bukan malah memaksakan sifat egois, kita ingin yang dipikiran sama dengan yang ada di dunia nyata.

Jika kita masih bersi keras maka siap-siap saja dengan kekecewaan mendalam dan terjebak disana sampai kita sendiri menyadarinya bahwa ini hanya persolan cara kita menyikapi masalah.

Membangun sesuatu tidak selalu sama dengan apa yang dipikirkan di awal tapi yang jelas jalannya tetap ada, kadang kala jawaban dari masalah itu tidak ada dan itu tidak harus di jawab.

Dan yah...

inilah pengalaman saya dan semoga kamu tidak seperti ini atau setidaknya paham bahwa ada lo jebakan berpikir semacam ini!

Jangan kaku tapi fleksibellah untuk mencapai tujuan.

Tujuan tetap sama hanya saja rencana bisa jadi dinamis...

Dan sampai jumpa di pengalaman berikutnyaa...


Diskusi